Blogger templates

Social Icons

Selasa, 03 Desember 2013

Yuk, Mengenal Alat Musik Gitar Lebih Jauh | Power Chord

Assalamualaikum kawan..

Power chord itu adalah salah satu jenis akor yang paling sering dimainkan oleh gitaris, karena memang cocoknya Power Chord dimainkan pada gitar. Pada prinsipnya Power Chord itu adalah akor atau kunci yang nada penyusunannya hanya terdiri dari 2 nada, yaitu nada "Root note"-nya atau nada dasarnya 'Do' dan nada kelimanya 'Sol' (eiiitss.. bukan sol sepatu ya??). Makanya di buku-buku kunci gitar ditulis dengan C5, D5, E5, A5, Dsb.
Chord A5
Chord C5
 











  

   Karakter suara Power Chord sangat bertenaga (namanya aja "Power") biasanya dipadukan dengan suara efek distorsi, sehingga terdengar berat bertenaga. Yang perlu dicatat, walaupun pengertian Power Chord tadi adalah akor dengan penyusunnya nada dasar dan nada ke-5, tapi Power Chord tidak cocok dimainkan pada senar tinggi. Karena jika pada senar tinggi, pasti tidak dapat karakter "berat"nya. Beberapa gitaris bahkan menyetem gitarnya di drop tuning pada drop D atau bahkan lebih. Ini semua tujuannya agar mendapatkan Karakter "Berat dan Bertenaga"

KEBUDAYAAN DAN KESENIAN JAWA TIMUR


Sejarah Kesenian Jawa Timur

1) Jaman Peralihan

Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda – tanda gaya seni jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga

2) Jaman Singasari

Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal, dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.

3) Jaman Majapahit

Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll

Budaya dan adat istiadat

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini. Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini. Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.

Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.


Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.  Dialek Bahasa Jawa di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek Bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan Dialek Surabaya, hanya saja ada beberapa kata yang diucapkan terbalik, misalnya mobil diucapkan libom, dan polisi diucapkan silup; ini dikenal sebagai Boso Walikan. Saat ini Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Bahasa Madura dituturkan oleh Suku Madura di Madura maupun dimanapun mereka tinggal. Bahasa Madura juga dikenal tingkatan bahasa seperti halnya Bahasa Jawa, yaitu enja-iya (bahasa kasar), engghi-enten (bahasa tengahan), dan engghi-bhunten (bahasa halus). Dialek Sumenep dipandang sebagai dialek yang paling halus, sehingga dijadikan bahasa standar yang diajarkan di sekolah. Di daerah Tapal Kuda, sebagian penduduk menuturkan dalam dua bahasa: Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Kawasan kepulauan di sebelah timur Pulau Madura menggunakan Bahasa Madura dengan dialek tersendiri, bahkan dalam beberapa hal tidak dimengerti oleh penutur Bahasa Madura di Pulau Madura (mutually unintellegible).
Suku Osing di Banyuwangi menuturkan Bahasa Osing. Bahasa Tengger, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Tengger, dianggap lebih dekat dengan Bahasa Jawa Kuna.


Kesenian dan Budaya Jawa Timur

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi ikon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan dan Angling Darma.

Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana.

a.    Seni Tari

Tari Remong, sebuah tarian dari Surabaya yang melambangkan jiwa, kepahlawanan. Ditarikan pada waktu menyambut para tamu. Reog Ponorogo, merupakan tari daerah Jawa Timur yang menunjukkan keperkasaan, kejantanan dan kegagahan.

b.    Musik

Musik tradisional Jawa Timur hampir sama dengan musik gamelan Jawa Tengah seperti Macam laras (tangga nada) yang digunakan yaitu gamelan berlaras pelog dan berlaras slendro. Nama-nama gamelan yang ada misalnya ; gamelan kodok ngorek, gamelan munggang, gamelan sekaten, dan gamelan gede.
Kini gamelan dipergunakan untuk mengiringi bermacam acara, seperti; mengiringi pagelaran wayang kulit, wayang orang, ketoprak, tari-tarian, upacara sekaten, perkawinan, khitanan, keagaman, dan bahkan kenegaraan.Di Madura musik gamelan yang ada disebut Gamelan Sandur.

c.    Rumah adat

Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo , bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep).Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.
Jawa memiliki berbagai keindahan budaya dan seni yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya. berbagai seni tradisi dan budaya tertuang dalam karya karya pusaka masyarakat jawa seperti batik, rumah joglo, keris dan gamelan. karya pusaka seni dan budaya jawa seperti diatas sangat populer dan mendapatkan tempatnya sendiri di hati msyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke yogyakarta. Menginginkan suasana jawa dengan rumah joglonya dapat dilakukan dengan berwisata adat dan budaya di yogyakarta. sekarang ini telah muncul banyak pilihan berwisata yang menawarkan sifat dan budaya lokal yang tercover dalam desa wisata. Anda tentunya akan dapat menikmati suasana seperti masyarakat jawa sesungguhnya karenan memang desa desawisata telah dipadukan dengan kearifan lokal yang patut anda kunjungi. Selamat berwisata ke jogja…

d.    Pakaian adat

Pakaian adat jawa timur ini disebut mantenan. pakaian ini sering digunakan saat perkawinan d masyarakat magetan jawa timur

e.    Kerajinan tangan

Macam-macam produk unggulan kerajinan anyaman bambu berupa : caping, topi, baki, kap lampu, tempat tissue, tempat buah, tempat koran serta macam-macam souvenir dari bambu lainnya. Sentra industri ini terletak di Desa Ringinagung +- 1,5 arah barat daya kota Magetan.

f.    Perkawinan

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

      g.    Festival Bandeng

Festival Bandeng selalu digelar setiap tahun. Namun, ada yang berbeda dalam perayaan tahun ini. Kegiatan tersebut tidak dibarengi dengan acara lelang (menjual dengan harga tawar yang paling tinggi) bandeng kawak yang sudah menjadi tradisi masyarakat Sidoarjo.
Kurang biaya dan bencana lumpur Sidorjo menjadi penyebab lelang itu dihilangkan. Walaupun tidak ada lelang, kegiatan tersebut diharapkan bisa mendorong petani untuk tetap membudidayakan ikan bandeng dengan bobot tak wajar alias raksasa.
Pemkab Sidoarjo sangat memperhatikan pelestarian bandeng karena ikan itu adalah ikon utama Kabupaten Sidoarjo.
Festival yang juga bertujuan melestarikan budaya tradisional tahunan masyarakat Sidoarjo itu diikuti empat peserta petambak di Kabupaten Sidoarjo. Peserta berlomba menunjukkan hasil tambak berupa bandeng yang paling sehat dan terbaik.

       h.  Upacara Kasodo

Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh penduduk suku Tengger.
Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

        i.  Parikan

Ada tiga jenis parikan di dalam ludruk pada saat bedayan (bagian awal permainan ludruk). Ketiga jenis parikan tersebut adalah lamba (parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa berisi kisah-kisah kocak).

       j.  Ketoprak

Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

       k.  Reog Ponorogo

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur, khususnya kota Ponorogo. Tak hanya topeng kepala singa saja yang menjadi perangkat wajib kesenian ini. Tapi juga sosok warok dan gemblak yang menjadi bagian dari kesenian Reog.
Di Indonesia, Reog adalah salah satu budaya daerah yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan.
Seni Reog Ponorogo ini terdiri dari 2 sampai 3 tarian pembuka. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisional, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Eits, tarian ini berbeda dengan tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.
Adegan terakhir adalah singa barong. Seorang penari memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.

        l.  Karapan Sapi

Karapan sapi adalah pacuan sapi khas dari Pulau Madura. Dengan menarik sebentuk kereta, dua ekor sapi berlomba dengan diiringi oleh gamelan Madura yang disebut saronen.
Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Jalur pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.


Selasa, 19 November 2013

Ngadem luar dalem di Dago Pakar Bandung


Kawasan Dago Bandung termasuk kawasan beken dari zaman dulu. Batas bawahnya, perempatan Mal Bandung Indah Plaza hingga batas atas di Hutan Dago Pakar. Nah, kalau kamu udah begahdengan riuh rendah suasana di ‘Dago bawah’, naik aja ke kawasan Dago Pakar.
Destinasi wajibnya ialah Hutan Dago Pakar. Di sana, cuacanya super sejuk jadi kamu bisa ngadem. Sekalian proses detoksifikasi diri lah, ceritanya. Ongkos masuk, sekitar Rp10ribuan. Kalau kamu ke sana menggunakan mobil pribadi, siapkan ongkos parkir Rp10 ribu juga.
Lautan pinus terhampar di Dago Pakar. FOTO: flickr/ikhlasul amal
Hamparan Pohon Pinus di Dago Pakar. FOTO: Flickr.com/Ikhlasul Amal
Kalau menurut sejarah, Hutan Dago Pakar merupakan hutan lindung terbesar yang pernah dibuat oleh pemerintah Belanda pada zaman penjajahan dulu dengan nama asli Hutan Lindung Gunung Pulosari. Pembuatan hutan lindung ini dilakukan pada tahun 1912 bersamaan dengan pembangunan terowongan penyadapan aliran Sungai Cikapundung yang sekarang dikenal dengan Goa Belanda dan berada di dalam kawasan hutan.
Kemudian pada tahun 1985 pemerintah Indonesia menetapkan untuk menjadikan hutan lindung ini sebagai hutan wisata yang kemudian diberi nama Taman Hutan Raya Ir. Juanda. Ditambahkan nama Juanda di belakangnya sebagai bentuk penghargaan terhadap pahlawan nasional tersebut. Ada patungnya juga!
Namun, karena lokasinya berada di Dago, masyarakat Bandung lebih sering menyebutnya dengan Hutan Dago Pakar.
Air terjun Ciomas di Dago Pakar. FOTO: flickr/rnee_krisnamurthi
Air terjun Ciomas di Dago Pakar. FOTO: Flickr.com/rnee_krisnamurthi
Hutan yang terletak di pinggiran Kota Bandung ini memang cocok buat kamu untuk menjemput suasana rileks. Kehadiran pohon-pohon besar warisan pemerintah Belanda seperti Pinus Meksiko, Mahoni Uganda dan Cedar Hondura membuat suasana di dalam Hutan Dago Pakar terasa adem, bebas panas dan polusi. Duduk-duduk di bawahnya sambil menikmati semilir angin sudah terasa cukup untuk menenangkan diri.
Biasanya sih, saat di hutan raya ini, orang-orang suka ke Goa Jepang dan Goa Belanda. Lalu menuju Curug Ciomas. Kita bisa jalan di atas jembatan yang dibangun di atas curug tersebut. Kalau masih punya energi lebih, lanjut deh ke Maribaya. Taman hutan raya ini memang membentang dari Dago Pakar hingga kawasan wisata Maribaya, Lembang.

Rabu, 23 Oktober 2013

Pagoda emas di Tanah Karo


Pagoda tertinggi di Indonesia itu ada di Taman Alam Lumbini. Tingginya, sekitar 46.8 meter dan kini jadi magnet baru bagi wisatawan di Tanah Karo.
Replika
Replika  Pagoda Shwedagon Myanmar yang kini jadi magnet wisata di Taman Alam Lumbini. FOTO:Antara/IrsanMulyadi
Sejatinya, replika Pagoda Shwedagon di Myanmar yang kini ada di Taman Alam Lumbini itu berfungsi sebagai tempat ibadah. Berdiri sejak 2010, kini pagoda itu juga makin ramai dikunjungi publik untuk wisata. Di dalam pagoda, terdapat 30 rupang Arahat, 2.958 rupang Buddha serta 108 relik suci. Hampir semuanya dibawa langsung dari Myanmar. Untuk melihat-lihat koleksi istimewa ini, pengunjung boleh masuk tapi dilarang memotret dengan menggunakan blitz. Selain itu, pengunjung harus masuk bertelanjang kaki. Tersedia kantong plastik untuk membungkus alas kaki.
Jika sedang ada persiapan perayaan ibadah, pagoda tertutup untuk umum. Tapi masih bisa kok foto-foto narsis di sekitar pagoda. Apalagi warna keemasan pagoda ini memang cantik berpadu dengan birunya langit. Kontras! Selain itu, tersedia taman asri lengkap dengan jembatan gantung. Cocok untuk jalan-jalan rileks, menikmati udara segar di daerah sejuk ini. Ada banyak pohon langka, serta ada beberapa fasilitas alat kebugaran. Plus, wahana rekreasi anak-anak.
Taman Alam Lumbini. FOTO:Antara/Irsan Mulyadi
Taman Alam Lumbini. FOTO:Antara/Irsan Mulyadi

Transportasi ke Taman Alam Lumbini

Dari Medan, Taman Alam Lumbini dapat dicapai jika kamu ambil arah menuju Kabanjahe. Apabila tak bawa kendaraan pribadi, naik saja angkutan umum yang banyak ‘ngetem’ di Simpang Pos, Medan. Pilih mobil elf yang biasa digunakan warga lokal menuju Terminal Kabanjahe, lengkap dengan alunan musik dan lagu khas Medan yang akan menemani perjalanan berkelok-kelok. Ongkosnya, sekitar Rp10.000, waktu perjalanan sekitar 1,5 -2 jam.
Supir dan kondektur elf di Simpang Pos, umumnya lebih mengenal ‘pagoda’ ketimbang Taman Alam Lumbini. Kalau kamu bilang akan ke ‘Pagoda’, mereka akan menurunkan kamu di Simpang Tugu Jeruk (pertigaan dengan patung batang pohon dan tiga jeruk diatasnya). Dari situ, kamu bisa jalan kaki sekitar 15-20 menit, atau naik angkot. Jalan kaki pun sehat, sebab udara segar dan kamu bisa lihat perkebunan kubis dan stroberi di kanan kiri.
Menikmati tenangnya suasana Taman Alam Lumbini, idealnya dilakukan di pagi hari. Setelah itu, kamu bisa balik ke Medan, atau lanjut ke destinasi wisata di Tanah Karo lainnya.

Rabu, 09 Oktober 2013

Dekat Solo, sejuk seharian di Karanganyar


Terletak tak jauh dari Solo, Karanganyar ialah destinasi pas buat yang suka ngadem. Sebab sebagian wilayah kabupaten di Jawa Tengah ini memang terletak di kawasan Pegunungan Lawu. Makanya, terasa sejuk, rindang, full udara bersih khas dataran tinggi. Nah, kemana saja di Karanganyar?
Strawberry-090913-ASStroberi segar dijajakan di sepanjang jalan raya Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. ANTARAFOTO/Aguk Sudarmojo

Taman Semar

Taman gratis ini gampang ditemukan lantaran Patung Semar yang berukuran besar. Letaknya di kawasan Karang Pandan, yang pasti terlewati jika kita melintasi jalan raya dari Solo ke Tawangmangu, Karanganyar. Saat liburan, taman ini kebanjiran pengunjung. Di sana, bisa foto-fotoan seru bareng teman. Ataupun sekadar duduk-duduk santai saja.
patung semarrTaman Semar di Karanganyar, Jawa Tengah. FOTO:Suciana Dwi

Agrowisata Amanah

Tak jauh dari Taman Semar, terdapat Agrowisata dan Pemancingan Amanah yang cocok untuk rekreasi bersama teman dan keluarga. Mau outbound atau mancing, silahkan saja. Ada ragam ikan bisa dipancing lalu disantap. Mulai dari nila, ikan mas hingga kakap. Tersedia juga fasilitas menginap dan area main anak-anak. Lumayan lah buat rekreasi keluarga di akhir pekan. Oh ya, sentra pembuatan roti Amanah Bakery juga ada di sini. Jadi bisa beli roti tawar olahan bakeryrumahan yang fresh!

Grojogan Sewu

Dari Agrowisata Amanah, air terjun Grojogan Sewu tak jauh dicapai. Pada hari libur atau lebaran,  air terjun yang kondang bagi warga Solo ini penuh sesak. Begitu juga dengan hotel dan penginapan yang terdapat di sana. Kalau penasaran dan ingin lebih menikmati sensasi sejuknya, bertandanglah di hari biasa. Plus, siapkan stamina ya. Sebab untuk menuju Grojogan Sewu, kamu perlu menuruni 1.250 anak tangga!
grojogansewu-00Grojogan Sewu yang cantik dipandang. FOTO: Ellen S.Kusuma

Wana Wisata Sekipan

Hutan wisata ini dikelola Perum Perhutani Unit 1 Jawa Tengah.  Di sini, boleh kemah, atau sekadar trekking singkat. Hawanya sejuk dan segar, cocok untuk melepaskan kepenatan. Dari Grojogan Sewu, Wana Wisata Sekipan sudah terhitung dekat. Ongkos naik angkutan umum sekitar Rp3.000 saja. Nah, untuk masuk kawasan kemah, perlu jalan kaki sekitar 4 kilometer. Tiket masuknya, Rp7.500 saja. Kalau niat bermalam di kemah, bisa sewa tenda dan api unggun.

Kamis, 26 September 2013

Gapang, surga di kilometer 21 Sabang


Pulau Weh, Kota Sabang, termashur akan satu hal – laut biru yang dinaungi pepohonan hijau dan rimbun. Rasanya, waktu berhenti sejenak saat saya rebah di pasir putihnya yang lembut. Angin bertiup semilir, mendinginkan wajah.
Untuk sampai di pulau terbarat Indonesia tersebut, saya menumpang kapal feri yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh. Jadwal keberangkatan kapal mudah berubah, bahkan bisa dibatalkan jika cuaca di laut kurang bersahabat. Ada baiknya memastikan jadwal keberangkatan kapal feri jauh-jauh hari.
IMG_0581
Pantai Gapang. Foto: Muna Sungkar
Berlayar antara Banda Aceh dan Pelabuhan Balohan, Sabang, makan waktu 45 menit. Nah, sepanjang perjalanan dilarang mengedipkan mata. Kenapa? Sebab, kamu akan melewatkan panorama indah. Laut dalam yang kebiruan itu tampak berkilau ditimpa cahaya matahari. Dan, segera setelah merapat di Pulau Weh, Kota Sabang, bersiaplah menemukan surga.
Menjelajah Pulau Weh bisa dilakukan dengan mobil sewaan. Saya menyewa mobil dari Dinas Pariwisata setempat dengan tarif Rp 300-500 ribu. Supaya lebih irit, mending patungan dengan wisatawan lain yang tujuannya searah.
Ada banyak pantai yang indah di Pulau Weh, salah satu yang terbaik adalah Pantai Gapang di Jalan Sabang-Iboih kilometer 21.
IMG_0582
Saat saya memasuki kawasan pantai tersebut, sengatan matahari segera meredup. Ini berkat pepohonan rimbun yang memayungi Pantai Gapang. Kalau kamu termasuk penggila snorkeling atau suka menyelam, Gapang juga lokasi jempolan. Ia termasuk salah satu spot selam terbaik di dunia. Terumbu karang cantik yang dihuni ribuan ikan mengisi perairannya.
Buat yang belum rela meninggalkan kepingan surga bernama Pantai Gapang, berkeliling saja untuk mencari penginapan murah. Beberapa kamar bahkan sangat dekat dengan pantai, sehingga keindahan Pantai Gapang akan menyapa lewat beranda kamar.

Jumat, 20 September 2013

Bertamu ke Pulau Sempu


Setelah asyik bermain air di Coban Rondo dan Kaliwatu, di hari kedua saya kembali berbasah-basahan di surga tersembunyi Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur. Yup, Segara Anakan!
Siapkan tenaga untuk trekking 2-3 jam menuju surga tersembunyi di tengah Pulau Sempu. (FOTO: Citra Putri)Siapkan tenaga untuk trekking 2-3 jam menuju surga tersembunyi di tengah Pulau Sempu. (FOTO: Citra Putri)
Saya dan rombongan tur menginap di sebuah homestay di kawasan Pantai Sendang Biru. Pantai ini berada di selatan kota Malang yang berjarak 69 Km dari pusat kota. Tarif menginap di kawasan ini cukup murah, sekitar Rp 150.000 per malam.
Pagi itu kami dijadwalkan akan menyeberang ke Pulau Sempu, untuk menikmati pantai Segara Anakan. Tarif menyeberang dengan perahu nelayan Rp 100.000 per perahu. Satu perahu dapat menampung hingga 10 penumpang.
Hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di Pulau Sempu. Untuk menuju surga tersembunyi di tengah pulau, kami masih harus trekking dengan medan yang cukup menantang selama 2-3 jam. Kami memutuskan untuk menyewa pemandu yang bisa mengantarkan kami ke tujuan. Kami patungan untuk membayar tarif yang diminta, yakni sebesar Rp 100.000. Tarif ini akan membengkak menjadi Rp 150.000 jika kami ingin lebih lama di Segara Anakan dan meminta dijemput di atas jam 15.00.
Rasa capek sehabis trekking langsung hilang begitu lihat birutnya laut Segara Anakan! (FOTO: Citra Putri)Rasa capek sehabis trekking langsung hilang begitu lihat birutnya laut Segara Anakan! (FOTO: Citra Putri)
Sepanjang trekking, kami melalui banyak rintangan, mulai dari tanjakan, turunan, hingga jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Untungnya siang itu sedang tidak hujan, kalau iya, wah, bisa lebih berat perjalanan kami. Bayangkan hutan bakau yang berlumpur dan tas yang bertambah berat karena basah. Belum lagi jalanan yang menjadi licin.
Setelah berjalan kaki selama hampir 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Segara Anakan sekitar jam 12.30. Rasa capek dan pegal-pegal langsung hilang setelah melihat pemandangan di depan mata yang hanya bisa digambarkan oleh satu kata, “Ajiiiiiiibbb!!” 
Pasir putih yang membentang berpadu cantik dengan air laut yang biru. Kebetulan cuaca juga sedang cerah, jadi bagi yang berniat tanning tak perlu khawatir akan turun hujan.
Di ujung pantai ada karang berlubang dengan diameter 10 m. Lubang itulah yang mengalirkan air laut dari Samudera Hindia ke Pulau Sempu, jadi tak heran jika air pantai terasa dingin.
Banyak yang memutuskan untuk bermalam dan berkemah di tepi pantai Segara Anakan. (FOTO: CItra Putri)Banyak yang memutuskan untuk bermalam dan berkemah di tepi pantai Segara Anakan. (FOTO: Citra Putri)
Setelah puas bermain air dan berjemur, kami berkumpul untuk makan siang bersama. Tampaknya banyak wisatawan lain yang bermalam di sini. Terlihat dari tiga buah tenda yang berdiri di samping kami.
Tak terasa sudah jam 15.00, kami pun bersiap-siap kembali ke Sendang Biru sebelum hari mulai gelap. Bagi yang berniat kemari, dua hal yang perlu kalian ingat; bawa persediaan air minum yang cukup dan yang paling penting, bawa kantong plastik untuk menyimpan sampah.

5 Atraksi budaya menarik di Festival Danau Toba


Enaknya jadi turis festival, kita bisa langsung lihat atraksi budaya menarik yang jarang ditemui pada hari biasa. Termasuk di Festival Danau Toba 8-14 September tahun ini. Buat kamu yang enggak sempat ke sana, lihat foto-foto ini dulu deh. Pasti kepengen.

Solu Bolon

Jika masyarakat China punya perahu naga, maka orang Batak punya Solu Bolon. Dalam festival kali ini ada 20 tim berlaga, adu cepat di perairan Tuktuk, Danau Toba. Perlombaan mendayung perahu tradisional ini diselenggarakan selama 3 hari. Saat lomba berlangsung, beberapa kapal wisata berbodi besar sempat  nyelonong di jalur lomba. Untung, tak ada korban jiwa. Solu Bolon berlangsung seru, digemari pengunjung yang haus hiburan.
Parade Solu Bolon

Musik Batak Toba

Asyiknya mengunjungi Lake Toba’s World Drum Festival yang dihelat di Samosir, kamu bisa melihat langsung ragam alat musik tradisional khas masyarakat Batak. Misalnya, suling bambu khas Batak hingga Taganing, gendang khas warga lokal. Alat musik ini punya sejarah menarik loh.
Musik Batak Toba

Umumnya, gendang berfungsi sebagai pengiring melodi. Namun, Taganing merupakan gendang pembawa melodi. Sejauh ini, hanya ditemukan tiga gendang jenis tersebut di dunia. Yaitu entenga di Uganda, hasaing waing di Myanmar serta Taganing yang masih hidup dalam tradisi masyarakat Toba. Bahkan, Taganing memiliki varian paling banyak karena dipelihara lima sub etnik Batak, yaitu Toba, Simalungun, Pakpak/Dairi, Karo dan Mandaling.  Masyarakat Toba menyebutnya Taganing, sedangkan di Simalungun dinamai gondrang sipitu-pitu. Epik ya!

Sigale-Gale khas Danau Toba

Kalau kamu berkunjunga ke Pulau Samosir di hari-hari biasa, kamu bisa melihat boneka kayu khas Batak, Sigale-gale. Tapi kapan lagi melihat Sigale-gale pawai bersama kalau tidak saat festival seperti saat ini? Khusus dalam Festival Danau Toba, karnaval Sigale-gale melibatkan berbagai elemen simbolis 4 puak suku Batak. Penampilan gundala-gundala yang terlihat mencolok di barisan kerap dijadikan objek foto menarik. 
Karnaval Sigale Gale

Tari Tor tor Sawan yang kolosal

Tarian Tor- Tor Sawan biasanya ditampilkan dengan iringan musik Magondangi dalam ritual yang berhubungan dengan roh. Umumnya dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari dosa. Tapi, kapan lagi melihat tarian ini ditarikan secara kolosal oleh 500 penari jika tak saat festival? Saat pertunjukan, tak sedikit cawan yang jatuh dan pecah.
Tor-Tor-Cawan080913-irsan

Ulos yang nyaris punah

Kain tradisional Batak ini dikhawatirkan akan punah dalam dua generasi mendatang. Penyebabnya ialah harga benang kelewat mahal dan harga Ulos jatuh di pasaran akibat sepi peminat. Jika terus begitu, siapa lagi yang mau menenun Ulos?
Workshop Heritage Danau Toba

Adalah Sandra Niessen, antropolog berdarah Belanda yang membuat pernyataan itu. Penulis ‘Legacy in Cloth, Batak Textiles of Indonesia’ tersebut memang pernah tinggal di Sumatera Utara pada periode 1970-1980 saat meneliti kain Ulos untuk gelar Phd-nya. Tahun 2010, Sandra sedih bukan kepalang ketika mendapati kampung-kampung penghasil ulos terlihat sepi dan terlantar. Sandra, bersama aktivis budaya Ojak Tampe Raja berusaha mengetuk kembali semangat melestarikan ulos lewat workshop di festival ini. 
Ragam acara dalam Festival Danau Toba 2013 bukan cuma menarik wisatawan asing dan domestik dari luar Tanah Batak, tapi juga dinikmati warga setempat. Seru ya? Makanya, tahun depan jangan ketinggalan lagi! Harga tiket pesawat dari Jakarta ke Medan enggak terlalu mahal kok, bisa dapat sekitar Rp300 ribuan. Lebih murah lagi saat ada promo.

Senin, 09 September 2013

Wisata di Lombok, Coba Trekking Seru ke Air Terjun Tiu Kelep

Lupakan dulu pantai saat wisata di Lombok.  Coba serunya trekking ke Air Terjun Tiu Kelep.

Lombok sudah menjadi destinasi alternatif bagi pecinta destinasi di wilayah timur Indonesia. Pulau yang sering disebut-sebut kembaran dari Pulau Dewata ini memang punya sederet daftar pantai-pantai perawan berpasir putih yang wajib disatroni. Dari Pantai Mawun di ujung selatan, sampai dengan Tiga Gili yang letaknya agak di utara. Tapi, godaan Lombok bukan cuma pantai. Bagi yang gemar menjadi bocah petualang saat berwisata, bisa coba serunya trekking ke Air Terjun Tiu Kelep di Senaru.
Berada di kaki Rinjani, letak air terjun Tiu Kelep berdekatan dengan air terjun Sendang Gile yang sudah terkenal duluan. Sekitar 30 menit sampai satu jam jalan, tergantung seberapa kecepatan langkah kaki. Berbeda dengan keindahan Sendang Gile yang mengucur dua tingkat, Tiu Kelep adalah air terjun dengan air deras yang langsung tumpah ruah dari ketinggian sekitar 40 meter. Saking derasnya, bahkan kabut air percikan Tiu Kelep sudah bisa dirasakan dari jarak 100 meter. Serunya, ada kolam renang alami di bawah air terjun. Brrrr, airnya dingin sekali!  Menurut kepercayaan penduduk lokal, berenang di sini bikin awet muda loh.
Selain keindahan air terjun, yang menarik dari Tiu Kelep adalah perjalanan menuju ke sana. Hanya tersedia jalur tanah setapak menerobos rimbun hutan. Ini berbeda dengan jalur ke Sendang Gile yang sudah dilapisi batako. Jalur setapak ini letaknya ada di sebelah kanan tanjakan tangga menuju ke Sendang Gile, tepat di depan gubuk peristirahatan yang memang disediakan untuk pengunjung yang mungkin kehabisan napas menaiki dan menuruni tangga yang curam.
Jembatan bolong dan aliran sungai yang harus disebrangi sebelum bersua dengan Tiu Kelep. (FOTO: Ellen Kusuma)
Jembatan bolong dan aliran sungai yang harus disebrangi sebelum bersua dengan Tiu Kelep. (FOTO: Ellen Kusuma)
Jalur setapak menuju Tiu Kelep terlihat jelas. Mungkin karena cukup sering dilalui turis, terutama mancanegara. Sepanjang perjalanan, seluruh indra terasa dimanja. Hutan rimbun dan pemandangan asri, kemudian melewati jembatan bolong, kembali menuju pepohonan rindang sembari ditemani suara gemericik air ketika makin dekat. Sesekali di jalan berjumpa dengan penghuni hutan seperti cacing ukuran jumbo dan warga setempat yang sedang mencuci di aliran sungai. Nah, hal paling seru dari trekking ke Tiu Kelep adalah keharusan untuk menyebrangi sungai lebar berbatu besar-besar dengan kedalaman kira-kira sebetis orang dewasa. Seru! Baru setelah perjuangan melawan arus deras sungai, Tiu Kelep terlihat di depan mata. Bak hadiah yang memang harus diperjuangkan sebelum bisa dinikmati.
Tiu Kelep yang deras dan riuh. (FOTO:Ellen Kusuma)
Tiu Kelep yang deras dan riuh. (FOTO:Ellen Kusuma)
Pulangnya, ada rute alternatif yang biasanya ditawarkan oleh pemandu wisata tidak resmi, yaitu melewati gorong-gorong air yang gelap. Katanya sih penuh kelelawar. Gorong-gorong ini sebenarnya letaknya bersebelahan dengan jembatan bolong. Sama-sama saluran air sebenarnya. Para pemandu wisata yang mangkal di depan loket biasanya mematok harga sekitar Rp 70.000 untuk memandu perjalanan ke Sendang Gile dan Tiu Kelep. Harga ini fleksibel, bisa ditawar kalau perginya rombongan. Biasanya sih sudah termasuk harga tiket masuk untuk ke dua air terjun, yang cuma seharga Rp 5.000. Tentu saja, menggunakan jasa pemandu bersifat opsional. Sebab mau bertualang sendiri pun bisa dilakukan.
Berminat trekking ke Tiu Kelep? Saran dari Wego hanya satu, gunakan alas kaki yang tidak mudah selip dan tahan air.

Jumat, 30 Agustus 2013



Memanjakan Perut Dengan Sate Klatak, Sambal Belut, dan Bakmi Jowo



Jika Anda ingin merasakan makanan khas Yogya selain gudeg, Bantul mungkin punya apa yang Anda cari.

Akhir pekan lalu saya sengaja menjelajahi Bantul demi mendapatkan hidangan kuliner favorit. Saya sudah bisa membayangkan pada musim libur pasti warung-warung tradisional yang sudah terkenal seperti itu akan menjadi sasaran para wisatawan domestik.

Sebenarnya ada sangat banyak ragam kuliner di wilayah Bantul, salah satu yang menjadi favorit adalah sate klatak (ada juga yang menuliskan “klathak”). Sate klatak adalah sate kambing yang ditusuk menggunakan ruji sepeda, bukan tusuk sate biasa dari kayu. Dinamakan sate klatak karena ketika dibakar akan berbunyi klatak-klatak, sembari memercikkan api.
Sate klatak disajikan dengan kuah gule encer. (Olenka Priyadarsani)
Sore itu saya menyempatkan ke warung Sate Klatak Pak Pong, warung sate klatak yang bisa dibilang paling terkenal di antara warung-warung lain. Sebenarnya, sebagai orang Yogya, saya malu mengaku baru kali ini mencoba sate klatak. Rencana sih sudah ada dari dulu, entah kenapa baru kesampaian sekarang.
Proses pembakaran sate klatak di Warung Pak Pong. (Olenka Priyadarsani) Ketika tiba di Sate Klatak Pak Pong, sudah berderet mobil-mobil dengan plat nomor dalam maupun luar kota. Untungnya, walaupun ramai, saya tidak perlu terlalu lama menunggu hingga pesanan datang. Ternyata satu porsi sate hanya terdiri dari dua tusuk, dengan satu tusuknya berisi sekitar delapan potong daging tanpa lemak. Sate tersebut disajikan dengan kuah gulai encer.

Karena perut sudah melilit, langsung saya mulai santap sate dengan nasi panas. Secara otomatis, saya langsung mencari kecap manis yang sudah umum menjadi teman makan sate kambing. Ternyata di meja tidak disediakan. Sate klatak memang unik karena hanya dibumbui dengan garam saja. Benar juga sih, kalau ditambah kecap manis, apa bedanya dengan sate kambing biasa?

Gigitan pertama rasanya lumer di mulut. Dagingnya empuk sekali. Kematangan dan rasa asinnya juga pas. Bumbu yang sederhana tersebut justru membuat rasa daging kambing sangat menonjol. Asyiknya lagi, walaupun hanya dibumbui garam, tidak ada bau prengus sama sekali.

Porsi yang kecil itu menurut saya justru pas, karena pengunjung jadi bisa memesan menu-menu lain. Saya juga jadi tidak malu-malu untuk memesan tongseng kambing yang tidak kalah lezat. Menu lainnya antara lain gulai, tongseng otak, dan tongseng kaki kambing. Harga satu porsi sate hanya Rp14 ribu, cukup ramah di kantong untuk warung setenar itu.
Warung Sambal Belut Pak Sabar, walau letaknya tersembunyi tetap dicari orang. (Olenka Priyadarsani)
Esok harinya, masih belum puas dengan sate saja, saya meluncur mencari Sambel Welut Pak Sabar. Seperti namanya, menu utama berasal dari bahan baku berupa welut atau belut. Warungnya agak menyempil, tidak terlihat dari jalan besar, berada di belakang kuburan.
Sambal belut, belut goreng dan lalapannya. (Olenka Priyadarsani) Warung Pak Sabar seperti rumah biasa, namun ternyata kursi-kursi untuk tamu cukup banyak. Saya pun memesan sambal belut dan belut goreng. Hidangan utama datang ditemani dengan lalapan berupa ketimun dan kemangi, serta rebusan bayam.

Sambal belut berupa campuran antara daging belut yang diulek dengan sambal. Entah bumbunya apa saja, namun rasa didominasi oleh pedasnya cabai rawit dan kencur, serta tentu saja garam. Sambal belut ini cocok dengan nasi putih panas karena kalau orang Jawa bilang nglawuhi atau sangat cocok dijadikan lauk. Belut gorengnya pun renyah, bisa dimasak hingga kering atau setengah matang sesuai selera. Kabarnya, belut warung Pak Sabar ini semuanya adalah belut sawah, bukan ternakan, sehingga rasanya lebih gurih.
Bakmi jawa sangat lezat dinikmati panas-panas pada malam hari. (Olenka Priyadarsani)
Setiap saya pulang kampung ke Yogya, saya hampir tidak pernah melewatkan jajan masakan favorit saya yaitu bakmi jawa. Ada banyak warung bakmi jawa yang terkenal di Yogya, salah satu yang paling favorit adalah warung Mbah Mo.

Warung yang buka mulai pukul 17.00 ini menyediakan bakmi rebus, bakmi goreng, dan dan bakmi nyemek (rebus dengan air sedikit). Campuran antara ayam kampung dan telur bebek membuat rasa bakmi gurih dan lezat.

Saat liburan, pengunjung dapat menunggu pesanan hingga lebih dari satu jam karena bakmi harus dimasak satu per satu di atas tungku arang. Jadi, perlu kesabaran ekstra untuk menikmati lezatnya bakmi Mbah Mo.

Warung Bakmi Mbah Mo cukup jauh dari pusat kota Yogya, sekitar 15 km menuju ke arah selatan. Bagi yang belum pernah ke sini, Anda mungkin harus sering bertanya.

Nah, saya jadi lapar deh sekarang!

Warung Sate Klatak Pak Pong
Jl Imogiri Timur KM 10 Bantul

Warung Pak Sabar
Jl Imogiri Barat KM 6 Bantul

Warung Bakmi Mbah Mo
Desa Code, Kabupaten Bantul

Selasa, 27 Agustus 2013

Yuk, trekking dari Pancuran Telu ke Pancuran Pitu



Di Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ada satu jalur trekking yang harus dicoba. Yakni, trekking sepanjang 2,5 kilometer dari Pancuran Telu ke Pancuran Pitu. Medannya cukup membangkitkan adrenalin. Tapi, sebelum trekking mari intip Pancuran Telu yang jadi poin start untuk trekking.
Pancuran Telu letaknya menyatu dengan kawasan wisata Baturraden. Untuk masuk ke sana, wisatawan harus membayar karcis lagi senilai Rp 7.500.
trekking-00-pancurantelu
Pancuran Telu. Foto: Ellen Kusuma
Bau belerang semerbak saat memasuki area Pancuran Telu. Di ujung jalan setapak menuju ke pancuran, ada kolam persegi panjang dan sebuah air terjun mini. Kolam tersebut berisi air cokelat-oranye yang mengandung belerang, sementara air yang mengalir di air terjun mini itu jernih.
Yang kontras bukan cuma warna air saja, tetapi suhunya juga berbeda. Air di dalam kolam tersebut hangat, sebaliknya di air terjun dingin. Wah, seru nih! Buat yang merasa air di kolam terlalu panas bisa langsung pindah ke dekat air terjun.
trekking-01-menujupitu
Jalur trekking. Foto: Ellen Kusuma
Ada tiga pancuran yang mengalir ke kolam tersebut. Sesuai dengan namanya, Pancuran Telu. Dalam Bahasa Jawa, telu berarti tiga. Ketiganya mengalirkan air yang mengandung belerang ke dalam kolam.
Berendam di air panas yang mengandung belerang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit dan rematik. Jangan terlalu lama berendam juga, cukup 15-20 menit. Sebab, kalau terlalu lama kulit juga bisa iritasi.
Di tempat ini juga tersedia pijat belerang. Ada pondok terbuka dengan dipan-dipan untuk pijat belerang seharga Rp10.000.
trekking-02-pancuranpitu
Pancuran Pitu. Foto: Ellen Kusuma
Selesai menikmati wisata husada, alias wisata untuk penyembuhan penyakit, di Pancuran Telu maka trekking bisa dimulai. Di balik air terjun mini tadi, ada jalan menanjak yang mengantar kamu ke Pancuran Pitu. Jalanan dari batu cadas tersebut berliku-liku dengan tangga menanjak dan turunan menyusur permukaan tanah.
Jalurnya membelah hutan yang masih asri dengan pepohonan yang menjulang. Kadang, ada akar atau batang tumbang yang menghalangi jalan. Lumut tumbuh subur di sela-sela batu jalanan, membuat jalur jadi licin.
Sinar mentari sulit menembus rimbunnya hutan, sehingga udara terasa dingin dan lembap. Setelah cukup lama trekking menembus rimba sunyi tersebut, pepohonan mulai tampak jarang dan saya mendapati jembatan di atas sebuah aliran kecil.
trekking-03-pituselirang
Dari pondok istirahat yang ada, saya bisa melihat pemandangan kota di sekitar kawasan wisata Baturraden. Tentu saja perjalanan belum selesai, sebab masih ada tanjakan dan turunan curam yang masih harus dilalui sebelum mencapai loket masuk Pancuran Pitu.
Rute trekking ini akan melelahkan buat yang tidak terbiasa trekking. Itu sebabnya ada alternatif lain menuju Pancuran Pitu. Berjalanlah ke pintu keluar Baturraden, dari sana ada angkutan sewa yang akan mengantarkan ke Pancuran Pitu. Ongkos tergantung jumlah penumpang, makin banyak yang diangkut maka harganya makin murah.
Ada juga angkutan publik dengan tarif Rp 5.000, tetapi waktu berangkatnya tergantung jika penumpang sudah penuh. Naik mobil tidak kalah seru, sebab kondisi jalan yang berbatu-batu, curam, sempit, dan dekat dengan jurang bisa memacu adrenalin juga.
Tiket masuk ke Pancuran Pitu sama dengan tiket masuk ke Pancuran Telu, Rp 7.500. Walaupun sudah lewat pintu masuk, trekking ke tempat dengan tujuh pancuran tersebut belum selesai. Ada jalanan dan tangga menurun yang cukup panjang. Tidak perlu buru-buru mau cepat sampai, sebab pemandangannya indah. Saat sudah dekat tanah yang landai, terlihat kedai suvenir dan penjaja makanan.
Berbeda dengan Pancuran Telu yang airnya langsung mengucur ke kolam, di Pancuran Pitu ada tujuh pancuran sebaris yang mengucur di atas sebuah gundukan tanah. Suhu airnya bisa mencapai 60-70 derajat Celcius, lebih panas dibandingkan di Pancuran Telu.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pengunjung sebaiknya membasuh muka dan diri dari ujung pancuran yang satu ke ujung yang lainnya. Pemandian air panas ini senantiasa dikunjungi oleh pengunjung musiman ataupun pengunjung tetap yang rutin mandi belerang untuk kesehatan. Kalau sudah musim liburan, antrian bisa mengular!
Di pinggir pancuran disediakan bilik untuk mandi dari air pancuran yang sudah ditampung. Disediakan juga tempat istirahat dengan bangku-bangku panjang. Pengunjung bisa duduk-duduk melepas lelah sambil menikmati pijat belerang.
Air dari Pancuran Pitu memang tidak langsung tertampung di kolam seperti Pancuran Telu, airnya mengalir begitu saja melalui selokan yang dibuat dan menuruni pinggiran tebing.
Kalau masih memiliki energi, trekking bisa dilanjutkan ke bawah tebing untuk menikmati air panas kucuran Pancuran Pitu di Gua Selirang. Airnya terasa lebih hangat daripada yang mengucur langsung dari pancurannya. Aktivitas pijat belerang juga bisa dilakukan di depan gua ini.

Angkringan KR, enak di perut enteng di kantong

Yuk, main tebak-tebakan. Kemana kira-kira anak kos di Kota Pelajar Yogyakarta mencari penyelamat perut pas tanggal tua? Saya kasih clue ya, makanan dan minumannya disusun di atas gerobak dan dipayungi tenda. Yep, angkringan namanya …
Anak-anak kos merakyat di Angkringan KR semalam suntuk. Foto: kuliner.panduanwisata.com
Angkringan adalah tempat nongkrong favorit anak-anak kos berdompet cekak. Gak ada tempat yang harganya lebih bersahabat daripada angkringan. Saya sebagai mahasiswa yang sudah tahunan kuliah di Jogja tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bercerita tentang Angkringan Kedaulatan Rakyat alias Angkringan KR.
Itung-itung bisa ikut melestarikan budaya ‘mangan ora mangan, sing penting ngumpul‘ yang kental di Jogja.
Angkringan KR berlokasi di halaman depan Kantor Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat di Jalan Mangkubumi, tak jauh dari Tugu YogyakartaMenu yang ditawarkan antara lain nasi kucing, nasi kikil, nasi oseng tempe, sego sambel, nasi sambel teri, nasi usus goreng, nasi langgi, dan nasi rica ayam. Masing-masing dibanderol Rp 1.000 -Rp 5.000 saja, pemirsa. Bayangin, murah banget kan!
Kalo doyan sate, Angkringan KR juga punya berbagai model sate. Mulai dari sate telur puyuh, sate usus, sampai sate bakso. Gorengan, krupuk, dan kue juga ada. Dan, supaya tambah afdol acara makan bisa ditutup dengan segelas es susu tape ijo. Murah, nyaman, dan sederhana, itu tiga hal yang bisa menyimpulkan kesan saya tentang angkringan yang satu ini.
1
Cita rasa nasi bungkus yang harganya kurang dari Rp 10.000. Foto: kaskus.co.id
Di angkringan, pengunjungnya tak mengenal status sosial. Kaya-miskin sama saja, mau nyuap nasi pakai tangan atau sambil lipat kaki sah-sah saja. Tidak ada yang terganggu. 
Angkringan KR tidak pernah sepi pengunjung. Tempatnya populer banget. Pelanggannya juga variatif, ada tukang becak, kuli bangunan, mahasiswa, pengusaha, dan pejabat. Semuanya tumplek blek menikmati hidangan murah meriah. Ada yang makan sambil ngobrol dengan keluarga atau teman, ada pula yang memang ngalor-ngidul sampai larut malam untuk menikmati suasana Jogja.
Pak Jabrik, pemilik angkringan, tampak nyaman-nyaman saja menempati lokasi dagang yang strategis tersebut. Ia dan usaha kuliner self-service tersebut cukup berhasil memenuhi syarat ruang usaha 4P, yakni product, price, place, and promotion. Berkat usahanya, anak-anak kos di Jogja gak perlu khawatir menyongsong tanggal tua. Selalu ada ‘ganjal perut’ yang enteng di kantong di Angkringan KR.
Liburan ke Kota Pelajar gak mampir Angkringan KR? Wah, itu sih sama aja ngaku kalau kamu belum benar-benar mengeksplor Jogja.

Kamis, 22 Agustus 2013

10 Aktivitas populer di Gembira Loka Yogyakarta

Saat bepergian ke Yogyakarta bersama balita, jangan lupa luangkan waktu seharian untuk menikmati Gembira Loka. Ini dia 10 hal yang banyak dilakukan pengunjung saat disana.

IMG_1054-001
Tanpa memasang harapan terlalu tinggi -mengingat sejumlah kisah tragis di sejumlah kebun binatang di Indonesia- acara ke Gembira Loka pagi itu semata untuk mengenalkan si bocah dengan hewan selain kucing dan anjing yang biasa ia lihat di rumah. Perjalanan dari Malioboro menuju Gembira Loka tak lebih dari 20 menit menggunakan motor.
Saat tiba di pagi hari, sekitar pukul 09.00 WIB, Kebun Binatang Gembira Loka masih sepi. Datang saat libur lebaran, kami dikenai harga khusus. Rp25 ribu per orang dewasa. Si batita yang kami ajak, bisa melenggang masuk gratis. Jika berkunjung pada Senin-Sabtu, harga tiket Rp15 ribu per orang. Sedangkan Minggu dan hari libur nasional harga tiket menjadi Rp20.000 per orang, termasuk peta kebun binatang.
Bagian depan kebun binatang ini tampak menjanjikan. Bersih, rapi dan terlihat terawat. Tapi hati masih skeptis meski langkah kaki makin terasa bersemangat menjelajah kebun binatang seluas 20 hektar tersebut.

Taring

Suami saya yang bobot badannya terus nambah setelah berkeluarga, tampak happy ketika menemukan mobil odong-odong berbentuk kereta, disebut taring -alat transportasi keliling. Dengan semangat ia beli tiket terusan, Rp20 ribu per orang.  Belakangan, saya merasa tiket terusan ini banyak menghemat tenaga untuk mengelilingi Gembira Loka. Baca Asyiknya keliling Gembira Loka Yogyakarta bermodalkan taring. Tentu saja, berjalan dibawah naungan pohon rindang pun asyik luar biasa. Apalagi buat yang pacaran. Semakin pelan, semakin asoy kan?
Kebun Binatang Gembira Loka

Hewan Tunggang

Ada gajah dan unta yang bisa ditunggangi. Tiketnya, Rp10 ribu per kepala. Anak dibawah 3 tahun, tetap gratis.
Gajah yang dijadikan hewan tunggang ialah Gajah Sumatera.  Pagi itu, kami menunggangi Adi, gajah jantan berbobot lima ton yang melangkah santai sambil ngemil batang tebu. Jika hari sudah siang dan kebun binatang semakin ramai, maka Adi tak bertugas sendiri. “Masih ada dua lagi. Nanti keluar kalau sudah ramai,” kata Agus, petugas yang duduk paling depan. Satu gajah bisa mengangkut 3 penumpang dewasa termasuk si pawang yang duduk di bagian depan.
Si bocah tertawa-tawa senang dari atas gajah. Mudah-mudahan ia selalu ingat: bahwa tak adil bagi gajah jika hutan habis ditebang demi perluasan ladang sawit yang berujung pada gerenasi manusia penabung kolesterol jahat.
Atraksi dari unta punuk satu ini bisa jadi pilihan di Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. (FOTO: Sica Harum)
Atraksi dari unta punuk satu ini bisa jadi pilihan di Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. (FOTO: Sica Harum)
Jarak tunggangan gajah singkat saja,  cuma satu putaran tak lebih dari lima menit.  Lebih lama menungangi unta meski bayarnya sama-sama Rp10 ribu per orang dewasa. Area tunggang si unta lebih luas, namun tak sampai siang. Jika ingin menikmati banyak atraksi, datanglah pagi hari. Lokasi hewan tunggang ini berdekatan, tak jauh dari halte 2 taring.

Bird Park

Buat saya pribadi, wahana ini lah mahkota Gembira Loka. Baru dibuka awal Agustus, bird park ini tampil istimewa. Koleksi burung-burung nya lumayan menggambarkan keriaan negara tropis. Merak yang angkuh pun menghuni lokasi ini, selain menempati lahan kecil di tengah danau buatan bersama soang-soang yang berisik. Koleksi lain, nuri kepala hitam. Jika tiba di waktu makan, kita bisa mengulurkan pakan yang akan mengundang paruh-paruh kecil nan rakus. Si bocah pasti takjub!
Baca lebih jauh tentang Bird Park Gembira Loka pada artikel Ini dia warga cantik penghuni wahana baru Gembira Loka.
Saat makan tiba! Petugas Bird Park Gembira Loka Yogyakarta akan mengizinkan pengunjung memberi makan kepada burung-burung nuri. (FOTO: Sica Harum)
Saat makan tiba! Petugas Bird Park Gembira Loka Yogyakarta akan mengizinkan pengunjung memberi makan kepada burung-burung nuri. (FOTO: Sica Harum)

Hewan Latih

Tontonan binatang merupakan jenis hiburan klasik di semua kebun binatang di dunia. Singa laut, beruang madu, orang utan hingga hamster menjadi bintang panggung. Siang itu, kami sempat menonton Soimah, si beruang madu yang lincah naik sepeda dan berjoget riang. Saya pribadi lebih suka melihat beruang madu itu tak pandai main sepeda. Namun, atraksi ini mengundang perhatian pengunjung. Teater terbuka selalu penuh dengan orang dewasa dan anak-anak.
Soimah, beruang madu yang tangkas naik sepeda dan berjoget ria. (FOTO: Sica Harum)
Soimah, beruang madu yang tangkas naik sepeda dan berjoget ria. (FOTO: Sica Harum)

Atraksi Air

Tepat di tengah kebun binatang, ada danau buatan. Mau main speed boat, bisa. Mau basah-basahan main banana orca -semacam banana boat-, silahkan saja. Mau duduk-duduk cantik keliling danau menggunakanPerahu Katamaran, seru juga. Sembari menikmati angin sepoi-sepoi dan segarnya udara sekitar danau.
Pilihan lain, genjot sepeda air. Ada bebek-bebek yang bisa digenjot, tiketnya Rp15 ribu per kapal, bisa muat dua orang dewasa dan satu bocah. Lumayan pegal meski cuma bisa keliling satu kali putaran, sekitar 20 menit genjot santai mendekati pulau mungil yang dihuni merak dan soang. Lama kami menanti, si merak tak juga pamer. Ekor panjangnya yang mengingatkan pada ekor gaun pengantin tetap kuncup sampai operator sepeda air memanggil kami kembali.
Sepeda Air

Kasi makan rusa -kijang

Demi kesehatan binatang, ada larangan keras untuk memberi makan dalam bentuk apapun ke semua hewan penghuni Gembira Loka.  Kecuali di kandang rusa dan kijang. Tersedia pakan, berupa kangkung. Jika mau, beli saja satu ikat kangkung. Masukkan uang Rp1.000 ke kotaknya lalu mulailah memberi pakan. Anak-anak suka melakukan ini.
Rusa makan

Feeding Time

Pernahkah terbayang seekor unggas yang diumpankan kepada ular? Ia meronta, tahu hidupnya tak lagi lama. Lalu dalam sekejap, hap! Hanya terlihat kaki si unggas dari mulut ular. Sudah. Penonton bertepuk tangan. Ada yang suka, ada yang menggerutu, ada yang pergi begitu saja saat acara berjalan setengah jalan. Saya, termasuk yang ketiga. Betul, hukum alam memang ada, seperti rantai makanan yang memang nyata.  Namun saya memang tak pernah suka atraksi sejenis ini: pemberian pakan hidup kepada pemangsa. Bikin ngilu!
Atraksi pemberian makan -baik pakan ataupun umpan hidup- selalu menjadi atraksi yang menarik perhatian pengunjung. Di Gembira Loka, setidaknya ada 4 acara feeding time di hari biasa: ular, simpanse, ikan air tawar yang besar arapaima serta burung pecuk-padi hitam. Saat hari libur, bisa lihat acara makan harimau. Siap-siap saja sekitar jam 10.00 -11.00 WIB. Simpanse sangat berisik ketika acara makan tiba. Aa aa uu uu aaa aa uuu uuu aaa uu…

Foto bareng

Ingin foto bersama Ular Boa yang melingkari tubuh? Atau sekadar santai berpose bareng iguana dan kura-kura? Silahkan saja. Enggak usah khawatir, semua binatang sudah jinak dan ditemani pawang masing-masing. Buat bocah pun aman saja. Untuk berfoto bersama ular, ongkosnya Rp15.000 dan foto langsung dicetak. Foto bareng Iguana, gratis. Tapi masukkan uang tip sepantasnya di kotak-kotak yang tersedia.
Iguana di Gembira Loka

Piknik

Secara keseluruhan, kondisi kebun binatang ini cukup nyaman. Koleksi binatang, lumayan. Kecuali jerapah yang memang sudah wafat dan sejak 3 tahun lalu Gembira Loka belum punya jerapah baru. Masalah kebersihan pun tergolong oke. Banyak tempat sampah dan toiletnya pun cukup resik. Hanya saja larangan dilarang merokok kerap dianggap angin lalu.  Kalau sudah begini, tegur langsung saja. Atau jika lihat petugas, beri tahu agar ia yang mengingatkan si pengunjung nakal.
Buat perokok yang tak bisa bertahan seharian, sebetulnya bisa saja merokok di kafe di danau buatan, dengan setting kapal besar  Mayang Tirta. Sekalian makan siang. Yang ditawarkan disana mulai dari siomay hingga ayam kremes. Harga relatif terjangkau. Seporsi nasi putih hangat dan ayam goreng plus lalapan serta sambal, dijual Rp17 ribu. Jus buah mulai dari Rp8000. Pilihan lain, food court tak jauh dari Bird Park.  Mau lebih hemat? Bawa bekal saja dari rumah, termasuk siap-siap tikar untuk piknik. Lokasi di sekitar halte 4, tepat di pelataran Mayang Tirta tergolong ideal sebagai lokasi piknik. Cukup bersih, dekat dengan danau buatan, agak jauh dari kandang-kandang hewan serta dinaungi pohon yang rindang.

Hunting Foto

orangutan
Binatang-binatang penghuni Gembira Loka ialah model-model sempurna untuk bidikan kamera. Orang utan yang berkandang di bagian depan, tampak sudah kerap berpose. Unta yang selalu terlihat mengunyah ataupun burung-burung cantik penghuni bird park siap memuaskan hobi jeprat jepret. Mimik muka mereka selalu menarik untuk diabadikan. Bahkan harimau putih yang terdiam ataupun kuda nil yang cuma berjemur ber jam-jam pun, menantang untuk diabadikan. Siap-siap bawa baterai cadangan, ya!
Selamat bersuka ria di Gembira Loka!