Blogger templates

Social Icons

Kamis, 26 September 2013

Gapang, surga di kilometer 21 Sabang


Pulau Weh, Kota Sabang, termashur akan satu hal – laut biru yang dinaungi pepohonan hijau dan rimbun. Rasanya, waktu berhenti sejenak saat saya rebah di pasir putihnya yang lembut. Angin bertiup semilir, mendinginkan wajah.
Untuk sampai di pulau terbarat Indonesia tersebut, saya menumpang kapal feri yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh. Jadwal keberangkatan kapal mudah berubah, bahkan bisa dibatalkan jika cuaca di laut kurang bersahabat. Ada baiknya memastikan jadwal keberangkatan kapal feri jauh-jauh hari.
IMG_0581
Pantai Gapang. Foto: Muna Sungkar
Berlayar antara Banda Aceh dan Pelabuhan Balohan, Sabang, makan waktu 45 menit. Nah, sepanjang perjalanan dilarang mengedipkan mata. Kenapa? Sebab, kamu akan melewatkan panorama indah. Laut dalam yang kebiruan itu tampak berkilau ditimpa cahaya matahari. Dan, segera setelah merapat di Pulau Weh, Kota Sabang, bersiaplah menemukan surga.
Menjelajah Pulau Weh bisa dilakukan dengan mobil sewaan. Saya menyewa mobil dari Dinas Pariwisata setempat dengan tarif Rp 300-500 ribu. Supaya lebih irit, mending patungan dengan wisatawan lain yang tujuannya searah.
Ada banyak pantai yang indah di Pulau Weh, salah satu yang terbaik adalah Pantai Gapang di Jalan Sabang-Iboih kilometer 21.
IMG_0582
Saat saya memasuki kawasan pantai tersebut, sengatan matahari segera meredup. Ini berkat pepohonan rimbun yang memayungi Pantai Gapang. Kalau kamu termasuk penggila snorkeling atau suka menyelam, Gapang juga lokasi jempolan. Ia termasuk salah satu spot selam terbaik di dunia. Terumbu karang cantik yang dihuni ribuan ikan mengisi perairannya.
Buat yang belum rela meninggalkan kepingan surga bernama Pantai Gapang, berkeliling saja untuk mencari penginapan murah. Beberapa kamar bahkan sangat dekat dengan pantai, sehingga keindahan Pantai Gapang akan menyapa lewat beranda kamar.

Jumat, 20 September 2013

Bertamu ke Pulau Sempu


Setelah asyik bermain air di Coban Rondo dan Kaliwatu, di hari kedua saya kembali berbasah-basahan di surga tersembunyi Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur. Yup, Segara Anakan!
Siapkan tenaga untuk trekking 2-3 jam menuju surga tersembunyi di tengah Pulau Sempu. (FOTO: Citra Putri)Siapkan tenaga untuk trekking 2-3 jam menuju surga tersembunyi di tengah Pulau Sempu. (FOTO: Citra Putri)
Saya dan rombongan tur menginap di sebuah homestay di kawasan Pantai Sendang Biru. Pantai ini berada di selatan kota Malang yang berjarak 69 Km dari pusat kota. Tarif menginap di kawasan ini cukup murah, sekitar Rp 150.000 per malam.
Pagi itu kami dijadwalkan akan menyeberang ke Pulau Sempu, untuk menikmati pantai Segara Anakan. Tarif menyeberang dengan perahu nelayan Rp 100.000 per perahu. Satu perahu dapat menampung hingga 10 penumpang.
Hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di Pulau Sempu. Untuk menuju surga tersembunyi di tengah pulau, kami masih harus trekking dengan medan yang cukup menantang selama 2-3 jam. Kami memutuskan untuk menyewa pemandu yang bisa mengantarkan kami ke tujuan. Kami patungan untuk membayar tarif yang diminta, yakni sebesar Rp 100.000. Tarif ini akan membengkak menjadi Rp 150.000 jika kami ingin lebih lama di Segara Anakan dan meminta dijemput di atas jam 15.00.
Rasa capek sehabis trekking langsung hilang begitu lihat birutnya laut Segara Anakan! (FOTO: Citra Putri)Rasa capek sehabis trekking langsung hilang begitu lihat birutnya laut Segara Anakan! (FOTO: Citra Putri)
Sepanjang trekking, kami melalui banyak rintangan, mulai dari tanjakan, turunan, hingga jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Untungnya siang itu sedang tidak hujan, kalau iya, wah, bisa lebih berat perjalanan kami. Bayangkan hutan bakau yang berlumpur dan tas yang bertambah berat karena basah. Belum lagi jalanan yang menjadi licin.
Setelah berjalan kaki selama hampir 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Segara Anakan sekitar jam 12.30. Rasa capek dan pegal-pegal langsung hilang setelah melihat pemandangan di depan mata yang hanya bisa digambarkan oleh satu kata, “Ajiiiiiiibbb!!” 
Pasir putih yang membentang berpadu cantik dengan air laut yang biru. Kebetulan cuaca juga sedang cerah, jadi bagi yang berniat tanning tak perlu khawatir akan turun hujan.
Di ujung pantai ada karang berlubang dengan diameter 10 m. Lubang itulah yang mengalirkan air laut dari Samudera Hindia ke Pulau Sempu, jadi tak heran jika air pantai terasa dingin.
Banyak yang memutuskan untuk bermalam dan berkemah di tepi pantai Segara Anakan. (FOTO: CItra Putri)Banyak yang memutuskan untuk bermalam dan berkemah di tepi pantai Segara Anakan. (FOTO: Citra Putri)
Setelah puas bermain air dan berjemur, kami berkumpul untuk makan siang bersama. Tampaknya banyak wisatawan lain yang bermalam di sini. Terlihat dari tiga buah tenda yang berdiri di samping kami.
Tak terasa sudah jam 15.00, kami pun bersiap-siap kembali ke Sendang Biru sebelum hari mulai gelap. Bagi yang berniat kemari, dua hal yang perlu kalian ingat; bawa persediaan air minum yang cukup dan yang paling penting, bawa kantong plastik untuk menyimpan sampah.

5 Atraksi budaya menarik di Festival Danau Toba


Enaknya jadi turis festival, kita bisa langsung lihat atraksi budaya menarik yang jarang ditemui pada hari biasa. Termasuk di Festival Danau Toba 8-14 September tahun ini. Buat kamu yang enggak sempat ke sana, lihat foto-foto ini dulu deh. Pasti kepengen.

Solu Bolon

Jika masyarakat China punya perahu naga, maka orang Batak punya Solu Bolon. Dalam festival kali ini ada 20 tim berlaga, adu cepat di perairan Tuktuk, Danau Toba. Perlombaan mendayung perahu tradisional ini diselenggarakan selama 3 hari. Saat lomba berlangsung, beberapa kapal wisata berbodi besar sempat  nyelonong di jalur lomba. Untung, tak ada korban jiwa. Solu Bolon berlangsung seru, digemari pengunjung yang haus hiburan.
Parade Solu Bolon

Musik Batak Toba

Asyiknya mengunjungi Lake Toba’s World Drum Festival yang dihelat di Samosir, kamu bisa melihat langsung ragam alat musik tradisional khas masyarakat Batak. Misalnya, suling bambu khas Batak hingga Taganing, gendang khas warga lokal. Alat musik ini punya sejarah menarik loh.
Musik Batak Toba

Umumnya, gendang berfungsi sebagai pengiring melodi. Namun, Taganing merupakan gendang pembawa melodi. Sejauh ini, hanya ditemukan tiga gendang jenis tersebut di dunia. Yaitu entenga di Uganda, hasaing waing di Myanmar serta Taganing yang masih hidup dalam tradisi masyarakat Toba. Bahkan, Taganing memiliki varian paling banyak karena dipelihara lima sub etnik Batak, yaitu Toba, Simalungun, Pakpak/Dairi, Karo dan Mandaling.  Masyarakat Toba menyebutnya Taganing, sedangkan di Simalungun dinamai gondrang sipitu-pitu. Epik ya!

Sigale-Gale khas Danau Toba

Kalau kamu berkunjunga ke Pulau Samosir di hari-hari biasa, kamu bisa melihat boneka kayu khas Batak, Sigale-gale. Tapi kapan lagi melihat Sigale-gale pawai bersama kalau tidak saat festival seperti saat ini? Khusus dalam Festival Danau Toba, karnaval Sigale-gale melibatkan berbagai elemen simbolis 4 puak suku Batak. Penampilan gundala-gundala yang terlihat mencolok di barisan kerap dijadikan objek foto menarik. 
Karnaval Sigale Gale

Tari Tor tor Sawan yang kolosal

Tarian Tor- Tor Sawan biasanya ditampilkan dengan iringan musik Magondangi dalam ritual yang berhubungan dengan roh. Umumnya dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari dosa. Tapi, kapan lagi melihat tarian ini ditarikan secara kolosal oleh 500 penari jika tak saat festival? Saat pertunjukan, tak sedikit cawan yang jatuh dan pecah.
Tor-Tor-Cawan080913-irsan

Ulos yang nyaris punah

Kain tradisional Batak ini dikhawatirkan akan punah dalam dua generasi mendatang. Penyebabnya ialah harga benang kelewat mahal dan harga Ulos jatuh di pasaran akibat sepi peminat. Jika terus begitu, siapa lagi yang mau menenun Ulos?
Workshop Heritage Danau Toba

Adalah Sandra Niessen, antropolog berdarah Belanda yang membuat pernyataan itu. Penulis ‘Legacy in Cloth, Batak Textiles of Indonesia’ tersebut memang pernah tinggal di Sumatera Utara pada periode 1970-1980 saat meneliti kain Ulos untuk gelar Phd-nya. Tahun 2010, Sandra sedih bukan kepalang ketika mendapati kampung-kampung penghasil ulos terlihat sepi dan terlantar. Sandra, bersama aktivis budaya Ojak Tampe Raja berusaha mengetuk kembali semangat melestarikan ulos lewat workshop di festival ini. 
Ragam acara dalam Festival Danau Toba 2013 bukan cuma menarik wisatawan asing dan domestik dari luar Tanah Batak, tapi juga dinikmati warga setempat. Seru ya? Makanya, tahun depan jangan ketinggalan lagi! Harga tiket pesawat dari Jakarta ke Medan enggak terlalu mahal kok, bisa dapat sekitar Rp300 ribuan. Lebih murah lagi saat ada promo.

Senin, 09 September 2013

Wisata di Lombok, Coba Trekking Seru ke Air Terjun Tiu Kelep

Lupakan dulu pantai saat wisata di Lombok.  Coba serunya trekking ke Air Terjun Tiu Kelep.

Lombok sudah menjadi destinasi alternatif bagi pecinta destinasi di wilayah timur Indonesia. Pulau yang sering disebut-sebut kembaran dari Pulau Dewata ini memang punya sederet daftar pantai-pantai perawan berpasir putih yang wajib disatroni. Dari Pantai Mawun di ujung selatan, sampai dengan Tiga Gili yang letaknya agak di utara. Tapi, godaan Lombok bukan cuma pantai. Bagi yang gemar menjadi bocah petualang saat berwisata, bisa coba serunya trekking ke Air Terjun Tiu Kelep di Senaru.
Berada di kaki Rinjani, letak air terjun Tiu Kelep berdekatan dengan air terjun Sendang Gile yang sudah terkenal duluan. Sekitar 30 menit sampai satu jam jalan, tergantung seberapa kecepatan langkah kaki. Berbeda dengan keindahan Sendang Gile yang mengucur dua tingkat, Tiu Kelep adalah air terjun dengan air deras yang langsung tumpah ruah dari ketinggian sekitar 40 meter. Saking derasnya, bahkan kabut air percikan Tiu Kelep sudah bisa dirasakan dari jarak 100 meter. Serunya, ada kolam renang alami di bawah air terjun. Brrrr, airnya dingin sekali!  Menurut kepercayaan penduduk lokal, berenang di sini bikin awet muda loh.
Selain keindahan air terjun, yang menarik dari Tiu Kelep adalah perjalanan menuju ke sana. Hanya tersedia jalur tanah setapak menerobos rimbun hutan. Ini berbeda dengan jalur ke Sendang Gile yang sudah dilapisi batako. Jalur setapak ini letaknya ada di sebelah kanan tanjakan tangga menuju ke Sendang Gile, tepat di depan gubuk peristirahatan yang memang disediakan untuk pengunjung yang mungkin kehabisan napas menaiki dan menuruni tangga yang curam.
Jembatan bolong dan aliran sungai yang harus disebrangi sebelum bersua dengan Tiu Kelep. (FOTO: Ellen Kusuma)
Jembatan bolong dan aliran sungai yang harus disebrangi sebelum bersua dengan Tiu Kelep. (FOTO: Ellen Kusuma)
Jalur setapak menuju Tiu Kelep terlihat jelas. Mungkin karena cukup sering dilalui turis, terutama mancanegara. Sepanjang perjalanan, seluruh indra terasa dimanja. Hutan rimbun dan pemandangan asri, kemudian melewati jembatan bolong, kembali menuju pepohonan rindang sembari ditemani suara gemericik air ketika makin dekat. Sesekali di jalan berjumpa dengan penghuni hutan seperti cacing ukuran jumbo dan warga setempat yang sedang mencuci di aliran sungai. Nah, hal paling seru dari trekking ke Tiu Kelep adalah keharusan untuk menyebrangi sungai lebar berbatu besar-besar dengan kedalaman kira-kira sebetis orang dewasa. Seru! Baru setelah perjuangan melawan arus deras sungai, Tiu Kelep terlihat di depan mata. Bak hadiah yang memang harus diperjuangkan sebelum bisa dinikmati.
Tiu Kelep yang deras dan riuh. (FOTO:Ellen Kusuma)
Tiu Kelep yang deras dan riuh. (FOTO:Ellen Kusuma)
Pulangnya, ada rute alternatif yang biasanya ditawarkan oleh pemandu wisata tidak resmi, yaitu melewati gorong-gorong air yang gelap. Katanya sih penuh kelelawar. Gorong-gorong ini sebenarnya letaknya bersebelahan dengan jembatan bolong. Sama-sama saluran air sebenarnya. Para pemandu wisata yang mangkal di depan loket biasanya mematok harga sekitar Rp 70.000 untuk memandu perjalanan ke Sendang Gile dan Tiu Kelep. Harga ini fleksibel, bisa ditawar kalau perginya rombongan. Biasanya sih sudah termasuk harga tiket masuk untuk ke dua air terjun, yang cuma seharga Rp 5.000. Tentu saja, menggunakan jasa pemandu bersifat opsional. Sebab mau bertualang sendiri pun bisa dilakukan.
Berminat trekking ke Tiu Kelep? Saran dari Wego hanya satu, gunakan alas kaki yang tidak mudah selip dan tahan air.