Blogger templates

Social Icons

Selasa, 27 Agustus 2013

Yuk, trekking dari Pancuran Telu ke Pancuran Pitu



Di Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ada satu jalur trekking yang harus dicoba. Yakni, trekking sepanjang 2,5 kilometer dari Pancuran Telu ke Pancuran Pitu. Medannya cukup membangkitkan adrenalin. Tapi, sebelum trekking mari intip Pancuran Telu yang jadi poin start untuk trekking.
Pancuran Telu letaknya menyatu dengan kawasan wisata Baturraden. Untuk masuk ke sana, wisatawan harus membayar karcis lagi senilai Rp 7.500.
trekking-00-pancurantelu
Pancuran Telu. Foto: Ellen Kusuma
Bau belerang semerbak saat memasuki area Pancuran Telu. Di ujung jalan setapak menuju ke pancuran, ada kolam persegi panjang dan sebuah air terjun mini. Kolam tersebut berisi air cokelat-oranye yang mengandung belerang, sementara air yang mengalir di air terjun mini itu jernih.
Yang kontras bukan cuma warna air saja, tetapi suhunya juga berbeda. Air di dalam kolam tersebut hangat, sebaliknya di air terjun dingin. Wah, seru nih! Buat yang merasa air di kolam terlalu panas bisa langsung pindah ke dekat air terjun.
trekking-01-menujupitu
Jalur trekking. Foto: Ellen Kusuma
Ada tiga pancuran yang mengalir ke kolam tersebut. Sesuai dengan namanya, Pancuran Telu. Dalam Bahasa Jawa, telu berarti tiga. Ketiganya mengalirkan air yang mengandung belerang ke dalam kolam.
Berendam di air panas yang mengandung belerang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit dan rematik. Jangan terlalu lama berendam juga, cukup 15-20 menit. Sebab, kalau terlalu lama kulit juga bisa iritasi.
Di tempat ini juga tersedia pijat belerang. Ada pondok terbuka dengan dipan-dipan untuk pijat belerang seharga Rp10.000.
trekking-02-pancuranpitu
Pancuran Pitu. Foto: Ellen Kusuma
Selesai menikmati wisata husada, alias wisata untuk penyembuhan penyakit, di Pancuran Telu maka trekking bisa dimulai. Di balik air terjun mini tadi, ada jalan menanjak yang mengantar kamu ke Pancuran Pitu. Jalanan dari batu cadas tersebut berliku-liku dengan tangga menanjak dan turunan menyusur permukaan tanah.
Jalurnya membelah hutan yang masih asri dengan pepohonan yang menjulang. Kadang, ada akar atau batang tumbang yang menghalangi jalan. Lumut tumbuh subur di sela-sela batu jalanan, membuat jalur jadi licin.
Sinar mentari sulit menembus rimbunnya hutan, sehingga udara terasa dingin dan lembap. Setelah cukup lama trekking menembus rimba sunyi tersebut, pepohonan mulai tampak jarang dan saya mendapati jembatan di atas sebuah aliran kecil.
trekking-03-pituselirang
Dari pondok istirahat yang ada, saya bisa melihat pemandangan kota di sekitar kawasan wisata Baturraden. Tentu saja perjalanan belum selesai, sebab masih ada tanjakan dan turunan curam yang masih harus dilalui sebelum mencapai loket masuk Pancuran Pitu.
Rute trekking ini akan melelahkan buat yang tidak terbiasa trekking. Itu sebabnya ada alternatif lain menuju Pancuran Pitu. Berjalanlah ke pintu keluar Baturraden, dari sana ada angkutan sewa yang akan mengantarkan ke Pancuran Pitu. Ongkos tergantung jumlah penumpang, makin banyak yang diangkut maka harganya makin murah.
Ada juga angkutan publik dengan tarif Rp 5.000, tetapi waktu berangkatnya tergantung jika penumpang sudah penuh. Naik mobil tidak kalah seru, sebab kondisi jalan yang berbatu-batu, curam, sempit, dan dekat dengan jurang bisa memacu adrenalin juga.
Tiket masuk ke Pancuran Pitu sama dengan tiket masuk ke Pancuran Telu, Rp 7.500. Walaupun sudah lewat pintu masuk, trekking ke tempat dengan tujuh pancuran tersebut belum selesai. Ada jalanan dan tangga menurun yang cukup panjang. Tidak perlu buru-buru mau cepat sampai, sebab pemandangannya indah. Saat sudah dekat tanah yang landai, terlihat kedai suvenir dan penjaja makanan.
Berbeda dengan Pancuran Telu yang airnya langsung mengucur ke kolam, di Pancuran Pitu ada tujuh pancuran sebaris yang mengucur di atas sebuah gundukan tanah. Suhu airnya bisa mencapai 60-70 derajat Celcius, lebih panas dibandingkan di Pancuran Telu.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pengunjung sebaiknya membasuh muka dan diri dari ujung pancuran yang satu ke ujung yang lainnya. Pemandian air panas ini senantiasa dikunjungi oleh pengunjung musiman ataupun pengunjung tetap yang rutin mandi belerang untuk kesehatan. Kalau sudah musim liburan, antrian bisa mengular!
Di pinggir pancuran disediakan bilik untuk mandi dari air pancuran yang sudah ditampung. Disediakan juga tempat istirahat dengan bangku-bangku panjang. Pengunjung bisa duduk-duduk melepas lelah sambil menikmati pijat belerang.
Air dari Pancuran Pitu memang tidak langsung tertampung di kolam seperti Pancuran Telu, airnya mengalir begitu saja melalui selokan yang dibuat dan menuruni pinggiran tebing.
Kalau masih memiliki energi, trekking bisa dilanjutkan ke bawah tebing untuk menikmati air panas kucuran Pancuran Pitu di Gua Selirang. Airnya terasa lebih hangat daripada yang mengucur langsung dari pancurannya. Aktivitas pijat belerang juga bisa dilakukan di depan gua ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar